Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BENCANA TAK HANYA RUSAK FISIK, JIWA KORBAN BUTUH PEMULIHAN

Pemulihan Jiwa Korban Bencana: Trauma Healing Harus Dilakukan Sejak Tanggap Darurat

MEDAN [PetraNews] — Bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik dan kerugian materi, tetapi juga luka mendalam pada jiwa para korban. Sayangnya, pemulihan psikologis sering kali terlambat dan terabaikan, padahal trauma yang tidak ditangani sejak dini dapat berkembang menjadi gangguan kejiwaan yang serius.

Hal tersebut disampaikan Muliadi, Instruktur Penanggulangan Bencana dan SAR serta Pengurus Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Sumatera Utara. Menurutnya, kondisi kejiwaan korban bencana di lapangan sangat memprihatinkan dan membutuhkan penanganan segera.

“Korban bukan hanya kehilangan keluarga, rumah, atau harta benda, tetapi juga kehilangan rasa aman dan identitas hidup mereka. Banyak yang berdiri di atas puing-puing sambil berteriak, marah, dan kebingungan. Itu bukan perilaku buruk, melainkan reaksi trauma berat,” ujar Muliadi.

Tiga Jenis Luka dalam Bencana

Muliadi menjelaskan, dalam setiap peristiwa bencana terdapat tiga dimensi luka yang harus ditangani secara bersamaan, yakni luka fisik, sosial-ekonomi, dan psikologis. Namun dalam praktiknya, luka psikologis kerap menjadi yang paling lambat mendapat perhatian.

“Logistik sering datang cepat, tetapi pemulihan jiwa sangat lambat. Padahal, jiwa yang terluka tidak mampu mengelola bantuan dengan baik,” katanya.

Ia menambahkan, perasaan tidak aman, ketidakpastian masa depan, serta hilangnya kendali atas hidup menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi mental korban. Akibatnya, bantuan fisik yang tersedia sering kali tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Ada bahan makanan, tetapi mereka tidak sanggup memasak. Ada tenda, tetapi tidak terasa aman. Tanpa pemulihan jiwa, bantuan fisik menjadi tidak bermakna,” jelasnya.

Trauma Healing Dimulai dari Mendengar

Menurut Muliadi, trauma healing tidak harus rumit atau penuh teori psikologi. Pendekatan yang sederhana, empatik, dan manusiawi justru menjadi kunci utama.

“Langkah pertama adalah hadir dan mendengarkan. Duduk sejajar dengan korban, biarkan mereka meluapkan emosi tanpa disanggah. Cukup katakan, ‘Kami paham ini sangat berat.’ Kalimat sederhana seperti itu bisa menjadi awal pemulihan jiwa,” ungkapnya.

Selain itu, pemulihan rasa aman harus segera dilakukan melalui pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan siap saji, air bersih, penerangan, serta informasi yang jelas dan jujur meski terbatas.

“Jiwa tidak akan tenang jika perut kosong dan masa depan terasa gelap,” tegasnya.

Korban juga perlu dilibatkan dalam aktivitas ringan agar kembali merasa berguna, seperti mengatur tenda, membersihkan lingkungan, atau menjaga anak-anak. Menurut Muliadi, rasa memiliki peran akan mempercepat kebangkitan mental korban.

“Orang yang merasa berguna akan lebih cepat bangkit secara psikologis,” katanya.

Peran Pendampingan Spiritual

Selain pendekatan psikososial, Muliadi menekankan pentingnya pendampingan spiritual dalam proses trauma healing. Ia menilai kekuatan spiritual sering kali menjadi sumber ketenangan batin yang besar bagi korban bencana.

“Tidak perlu ceramah panjang. Doa bersama, sholat berjamaah, atau kalimat sederhana seperti ‘Bapak/Ibu tidak sendiri’ dapat memberikan ketenangan dan kekuatan luar biasa,” ujarnya.

Trauma Healing Bukan Hanya Tugas Psikolog

Muliadi menegaskan bahwa trauma healing tidak hanya bisa dilakukan oleh psikolog klinis. Relawan berpengalaman, tokoh agama, guru, kader kesehatan, hingga aktivis sosial dapat dilatih secara cepat untuk melakukan pendampingan psikologis dasar.

“Yang terpenting adalah etika mendengar, bahasa empatik, serta tidak menghakimi atau menggurui. Kepekaan dan kedekatan emosional jauh lebih penting daripada teori,” jelasnya.

Pemulihan Jiwa Harus Jadi Prioritas

Ia mengingatkan pemerintah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar pemulihan jiwa korban bencana dijadikan prioritas sejak fase tanggap darurat, bukan menunggu tahap rehabilitasi.

“Jiwa yang pulih adalah fondasi kebangkitan keluarga dan masyarakat. Trauma healing harus menjadi bagian dari respons awal bencana,” tegas Muliadi.

Diskusi Gerbang Indonesia

Urgensi trauma healing juga disampaikan Muliadi dalam diskusi di grup WhatsApp Gerakan Bela Negara Membangun Indonesia (Gerbang Indonesia). Dalam forum tersebut, para relawan dan aktivis sosial menyatakan komitmen untuk mendukung pelaksanaan trauma healing di lapangan.

“Trauma healing bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi tanggung jawab bersama. Melalui Gerbang Indonesia, pelatihan relawan dan penyebaran kesadaran bisa dilakukan lebih cepat,” katanya.

Gerbang Indonesia juga mendorong pembentukan tim trauma healing berbasis masyarakat di daerah terdampak bencana, yang melibatkan tokoh agama, guru, dan aktivis lokal.

“Pemulihan jiwa harus dimulai segera saat bencana terjadi, karena waktu sangat menentukan,” tambahnya.

Ajakan Bersama

Muliadi menutup dengan ajakan kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memulihkan kejiwaan korban bencana.

“Trauma healing bukan program pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak. Mari kita pulihkan jiwa para korban agar mereka dapat bangkit dan melanjutkan hidup dengan harapan baru,” pungkasnya. [MGO281176]

Posting Komentar

0 Komentar