Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Aulia Rachman: Proyek BRT Solusi Atasi Kemacetan Kota Medan

Petranews.com-Medan| Pengerjaan proyek Bus Rapid Transit (BRT) saat ini sedang di kerjakan yang menghubungkan wilayah Medan, Binjai dan Deli Serdang (Mebidang).
BRT merupakan sistem transportasi massal berbasis bus yang dirancang agar cepat, berkapasitas tinggi, dan memiliki standar pelayanan layaknya kereta ringan.

Di Indonesia, layanan BRT paling populer adalah Transjakarta di ibu kota Jakarta. Selain itu, sistem BRT juga telah dan terus dikembangkan di berbagai wilayah lain seperti Bandung (Cekungan Bandung), Semarang (Trans Semarang), dan kota-kota besar lainnya di Tanah Air.

Hal ini disampaikan H. Aulia Rachman, SE, M.AP saat dimintai tanggapannya tentang pengerjaan proyek BRT di Kota Medan yang saat ini sedang berproses pengerjaannya. 

Menurut mantan Wakil Walikota Medan, bahwa proyek BRT mampu menekan angka kemacetan yang terjadi pada jam-jam sibuk di Kota Medan, sehingga kehadiran BRT ini sudah tepat di kerjakan.

"Kita lihat dan analisis, kemacetan di Kota Medan yang terjadi pada jam-jam sibuk, hampir tiap hari terjadi, kecuali hari libur, hal ini disebabkan ruas jalan yang ada dengan jumlah kendaraan yang melintas tiap harinya, tidak berbanding lurus, sehingga terjadinya kemacetan. Bahkan di beberapa titik, kemacetan terjadi cukup parah dan itu berimbas di wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Medan,"ujar Aulia Rachman kepada media, Kamis (11/6/2026).

Lebih jauh disampaikan tokoh muda Melayu ini, bahwa Kota Medan sebagai pusat ibukota Propinsi Sumatera Utara sekaligus pusat bisnis, jasa dan perkantoran, menarik bagi masyarakat yang tinggal di perbatasan antara Kab. Deli Serdang dan Kota Binjai melakukan migrasi bekerja di Medan, pada pagi dan pulang saat menjelang sore ke daerah asal, inilah faktor yang menyebabkan terjadinya kemacetan.

"Berhimpunnya orang dari berbagai daerah bekerja di Medan, terutama wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Medan, inilah penyumbang terbesar terjadinya kemacetan, sebab mereka keluar daerahnya (Binjai dan Deli Serdang) tentu menggunakan kendaraan baik mobil maupun sepeda motor dalam waktu bersamaan masuk dan keluar untuk bekerja, inilah faktor utama terjadi kecamatan. Jadi kehadiran BRT ini menjadi solusi agar mereka yang dari daerah menggunakan BRT saat masuk untuk bekerja ke Kota Medan, inilah strategi untuk mengurangi volume beban macet yang terjadi hampir setiap hari di Kota Medan,"terangnya.

Hal terpenting, menurut Aulia Rachman, masyarakat perlu diberi pemahaman dan pengertian pentingnya memanfaatkan BRT untuk urusan pekerjaan maupun perjalanan lain antar Kota di wilayah Mebidang ini. Dan masyarakat perlu di edukasi tentang perlunya moda BRT ini dimanfaatkan guna aktifitas keseharian, termasuk Pemko Medan perlu dan terus berikan edukasi bagi masyarakat, tentang pemanfaatan fasilitas BRT ini secara langsung.

"Wali Kota dan jajaran Pemko Medan terus sosialisasikan pemanfaatan fasilitas BRT ini guna keperluan mobilitas kesehariannya, gunakan semaksimal mungkin sosial media sampaikan perlunya Medan punya akses transportasi yang terintegrasi antar wilayah ini, sebab dari sisi efesiensi tentu sangat membantu biaya BBM kendaraan pribadi ditengah berkecamuknya harga BBM yang bergerak naik ini,"ucap Aulia Rachman.

Terkait adanya pertanyaan dari DPRD Medan tentang Proyek senilai Rp1,9 Triliun untuk proyek BRT. Komisi 4 DPRD Medan melayangkan sejumlah pertanyaan kritis terkait proyek ini karena pastinya terjadi penyempitan jalan dan kecamatan dan khawatir membebani APBD Medan.

"Terkait hal itu, ya Wali Kota Rico Waas bentuklah tim komunikasi yang baik, sampaikan secara argumentatif alasan yang disampaikan anggota Parlemen, dan sampaikan hasil kajian akademiknya dari aspek sosial, ekonomi, budaya, politik dan hukum agar semuanya clear and clean di lapangan,"tutur tokoh Medan Utara ini. (AS)

Posting Komentar

0 Komentar