Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Perdamaian Adalah Maslahat Kemanusiaan Yang Agung

Oleh: Abdul Aziz

Medan - Petra News
Di zaman ini, permusuhan agaknya menjadi kata yang tabu dalam dunia yang digerakkan oleh semangat ruhani sekaligus kemanusiaan. Tabu pula bersamanya kata iman dan agama. Dengan menuduh iman dan agama sebagai akar permusuhan, maka kehidupan masa depan diharapkan jauh dari iman dan agama. Inilah yang diinginkan oleh musuh-musuh para pejuang perdamaian.

Sayangnya, di antara kita ada yang mengaminkannya. Padahal sebagian kita harus berani berkata, "Tidak! Agama bukanlah sumber konflik. Orang yang menghayati agamanya dengan benar, justru akan mencintai perdamaian dan menghormati kemanusiaan."

Seorang mukmin sejati bukanlah pencinta perang, kerusakan, dan darah yang tertumpah. Ia tidak akan membunuh nyawa yang tidak berdosa. Seorang mukmin tidak boleh melakukan kekerasan, apalagi menghilangkan nyawa tanpa hak.

Seseorang menjadi pahlawan Islam bukan karena ia mencintai perang, tetapi justru karena ia mencintai perdamaian. Ia benci perang, benci kekerasan, dan benci teror. Ia berperang bukan karena haus darah, tapi karena ketaatan.

 Kisah perdebatan sengit antara Abdurrahman bin Auf dengan Khalid bin Walid. Perdebatan itu begitu panas hingga Khalid sampai mengumpat dan mencela Abdurrahman. Ketika terdengar oleh Rasulullah SAW, beliau bersabda kepada Khalid. Sabda itu bagaikan tamparan telak yang menyadarkannya dari buaian gelar "Pedang Allah yang Terhunus."

Rasulullah bersabda: "Tahan dirimu wahai Khalid! Jangan kau cela sahabat-sahabatku! Demi Allah, seandainya engkau memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu kau infakkan seluruhnya di jalan Allah, demi Allah, itu tidak akan mampu menyamai satu mud atau setengah mud yang mereka infakkan!"

Kata "Uhud" itu sendiri menghantam jiwa Khalid. Mengapa? Karena Abdurrahman bin Auf adalah satu dari sedikit orang yang berdiri kokoh di samping Nabi, menjadi tameng hidup dari sabetan pedang, tombak, dan hujan panah hingga tubuhnya terluka lebih dari 20 luka. Sementara Khalid pada saat Perang Uhud itu justru berada di barisan musuh, memimpin pasukan dengan satu tujuan: membunuh Rasulullah SAW.

Sejak saat itu Khalid tahu diri. Pedang Allah yang terhunus tetaplah hanya sebuah pedang. Jika tangan yang menggunakannya tak lagi sudi karena pedang itu melesat liar tanpa kendali, sangat mudah bagi Allah untuk mencampakkannya dan menggantinya dengan pedang lain yang lebih tajam, lebih tepat, dan lebih terkendali.

Disinilah Khalid mengoreksi prinsipnya: Perang bukanlah untuk perang itu sendiri. Perang dalam Islam adalah untuk menegakkan perdamaian.

Yang dapat kita petik dari peristiwa di atas:

Pertama, mukmin sejati mencintai perdamaian. Ia berperang jika ketaatan kepada Allah menuntutnya, maka ketaatannya akan melampaui batas suka dan tidak suka.

Kedua,tidak ada satu kejadian pun di dunia ini yang luput dari pengetahuan Allah SWT. Allah tidak pernah berlaku zalim kepada hamba-Nya.

Ketiga,semua yang terjadi pada umat manusia, baik suka maupun duka, adalah cobaan atau teguran, bukan kezaliman dari Allah. Di balik setiap peristiwa, ada pembelajaran yang hendak Allah pahamkan kepada kita.

Karena hidup adalah anugerah yang tak terhingga dari Allah SWT. Dan perdamaian adalah cara kita menjaga anugerah itu. Perdamaian adalah maslahat kemanusiaan yang paling agung.

Posting Komentar

0 Komentar