Gunung Tua -Petra News
Senja belum lagi jatuh, tapi aroma kopi sudah lebih dulu naik. Di Lopo (Lapau) Mendhehiling Coffee, Ahad (18/10/2026), Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), obrolan kami yang awalnya ringan, tiba-tiba jadi berat. Berat ketawa maksudnya.
Adalah KH. Muhammad Nuh yang membuka cerita. Dengan gaya khasnya, beliau melontarkan satu anekdot legendaris dari KH. Agus Salim. Cerita tentang debat kusir.
Senja di Batavia, Dekade 1920-an
Matahari temaram, memayungi jalanan Batavia yang berdebu. Sore yang lengang. Di tengah jalan itu, seorang tokoh pergerakan yang dikenal jenius, penguasa belasan bahasa asing, KH. Agus Salim, memutuskan pulang.
Beliau menaiki delman yang sedang melintas.
"Ke rumah, Pak," ujar Agus Salim sembari naik.
Sang kusir mengangguk, melecut tali kendali. _Ctak!_ Kuda pun melangkah pelan. Suasana awalnya tenang, khidmat, seperti sore di kota tua.
Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.
Tiba-tiba, terdengar suara yang sangat nyaring dan panjang dari belakang. Ya, kuda itu buang angin. Keras, lantang, tanpa permisi. Aroma tak sedap pun langsung merebak, terbawa angin sore.
Agus Salim yang sedang bersandar, spontan tersenyum geli. Untuk memecah kebekuan, beliau berseloroh dengan nada jenaka:
"Wah, kasihan kuda Anda ini, Pak Kusir. Sepertinya dia sedang masuk angin."
Mendengar ucapan itu, wajah kusir langsung berubah. Tidak terima.
"Tuan salah!" sanggah si kusir dengan nada tinggi. "Kuda saya tidak masuk angin."
Agus Salim terkejut. Bantahan yang cukup ngegas.
Beliau menjawab santai, "Kan buktinya jelas. Kalau buang angin seperti itu, tandanya masuk angin," ujar Agus Salim.
"Tidak bisa begitu!" si kusir makin ngotot, suaranya makin meninggi.
"Logika terbalik itu! Coba Tuan pikir, itu kan anginnya keluar dari perut kuda, bunyinya juga di luar. Yang benar, kudanya _keluar_ angin. Bukan _masuk_ angin!"
KH. Agus Salim, seperti yang diceritakan KH. Nuh, adalah diplomat ulung. Orang yang piawai mematahkan argumentasi musuh-musuh politiknya di forum internasional.
Beliau pun mencoba meluruskan dengan logika medis sederhana.
"Begini, Pak Kusir... Disebut masuk angin itu karena ada angin dari luar yang masuk ke dalam tubuh kuda. Maka perutnya kembung. Nah, dengan cara kentut itu, adalah cara tubuhnya untuk membuang angin yang masuk tadi. Prinsipnya tetap masuk angin."
Kusir itu menggeleng. "Prinsipnya saya tidak sependapat!" ujarnya.
Perdebatan pun terus berlanjut. Panjang. Sengit. Tak ada yang mau mengalah.
Agus Salim yang biasanya ditakuti lawan bicaranya, yang punya argumentasi setajam pisau silet, kali ini terdiam pasrah.
Beliau bergumam dalam hati, _"Tak perlu berdebat dengan orang yang tidak menggunakan logika."_
Untuk pertama kalinya, diplomat tingkat dunia itu kalah telak. Bukan oleh diplomat asing, bukan oleh penjajah, tapi oleh seorang kusir delman.
Begitu sampai di depan rumah, beliau turun dan membayar ongkos. Sambil melangkah masuk, beliau bergumam:
"Debat kusir... debat kusir..."
Dan sejak saat itulah, istilah _debat kusir_ lahir. Sebuah perdebatan yang tidak akan pernah selesai, karena bukan lagi soal benar atau salah, tapi soal siapa yang paling ngotot.
Cerita debat kusir itu berakhir dengan seruput kopi terakhir di sisa gelas kami masing-masing.
Kami semua tergelak. Bayangkan, diplomat yang menggetarkan Liga Bangsa-Bangsa, dikalahkan oleh seorang tukang bendi.
Kata Aziz sambil tertawa, "Ternyata di atas orang jenius, ada kusir yang lebih jenius mempertahankan pendapatnya."
Kadang, dalam hidup, menang bukan soal argumen yang paling benar, tapi soal tahu kapan harus berhenti berdebat dan menyeruput kopi.
_Salam secangkir kopi hangat dari Gunung Tua._
0 Komentar