Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Menjaga Rasa Kampuang Halaman di Tanah Rantau: Kehangatan Warga Bayua di Medan

Medan-Petra News
Jarak yang memisahkan tak selalu mampu menghapus rasa memiliki. Bagi perantau asal Nagari Bayua, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kampung halaman tetap hidup—dalam ingatan, dalam nilai, dan dalam kebersamaan yang terus dirawat di tanah rantau.

Suasana hangat itu terasa dalam kegiatan silaturahmi warga Bayua yang digelar di Gedung  Balerong Jl. Utama Medan, Ahad 12/4/2026).Tawa, sapaan akrab, dan nuansa kekeluargaan menyatu, menjadi pengobat rindu sekaligus pengikat hubungan yang tak lekang oleh waktu.

Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ia menjadi ruang untuk kembali menguatkan identitas, mempererat persaudaraan, sekaligus menjaga nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau di tengah kehidupan modern.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wakil Bupati Kabupaten Agam, Muhammad Iqbal, serta Ketua Ikatan Keluarga Besar Bayur Kota Medan, Ahmad Arif, bersama ninik mamak diantaranya H. Yuris Danilwan Gelar Datuak Saripado Nan Sati, serta warga perantau lainnya.

Bagi Ahmad Arif, silaturahmi seperti ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar berkumpul.

“Kita tentu mengajarkan nilai-nilai agama, karena di Minang itu ‘adat basandi syarak - syarak basandi kitabullah’, dasarnya adalah agama,” ujarnya.

Nilai itu, menurutnya, menjadi fondasi penting yang terus dijaga, bahkan ketika berada jauh dari kampung halaman. Ia juga mengingatkan pentingnya kemampuan beradaptasi bagi perantau, tanpa kehilangan jati diri.

“Sesuai pepatah ‘di ma bumi dipijak disinan  langik dijunjuang’, setiap masyarakat Bayua di perantauan harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Kabupaten Agam, Muhammad Iqbal, melihat kekompakan warga Bayua  di Medan sebagai cerminan kuatnya budaya gotong royong masyarakat Minangkabau.

Ia menilai, nilai-nilai adat yang berpadu dengan ajaran agama menjadi kekuatan yang mampu menjaga identitas, terutama bagi generasi muda.

“Falsafah ‘adat basandi syarak - syarak basandi kitabullah’ harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya generasi muda,” kata Muhammad Iqbal.

Ikatan yang terjalin ini bukan hal baru. Ikatan Keluarga Bayur (IKB) telah berdiri sejak 1951 bertempat  di Gg. Keluarga jl. SM. Raja Medan, berawal dari kebutuhan para perantau untuk saling terhubung dan saling menguatkan di perantauan.

Sejak saat itu, organisasi ini tumbuh menjadi wadah yang tak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga menjaga nilai keagamaan dan budaya melalui berbagai kegiatan. Salah satu yang masih rutin dilakukan hingga kini adalah pengajian bulanan—ruang sederhana yang menyatukan hati dan memperkuat spiritualitas.

Dalam kegiatan silaturahmi kali ini, rangkaian acara diisi dengan tausiyah, ramah tamah, hingga diskusi ringan tentang peran generasi muda dalam menjaga keberlangsungan organisasi dan budaya Minangkabau di tengah arus zaman.

Di tengah hiruk pikuk kota besar, kebersamaan seperti ini menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun merantau, akar budaya tetap bisa tumbuh—asal dirawat bersama.

Silaturahmi ini pun menjadi bukti bahwa bagi warga Bayur, kampung halaman bukan sekadar tempat, melainkan rasa yang selalu dibawa ke mana pun mereka pergi," tutup Arifin Thamrin selaku ketua panitia kegiatan.

Posting Komentar

0 Komentar