Medan-Petra News
Ramadhan dimaknai sebagai madrasah kehidupan yang akan membentuk pribadi menjadi takwa.
Kehidupan dunia sejatinya perjalanan panjang menuju akhirat, sehingga setiap ibadah dimaknai untuk mengantarkan kita kepada pemilik alam semesta, yakni Allah SWT.
Bulan Mubarak selalu menghadirkan suasa yang membuat kita lebih mudah memahami makna dari arti kontemplasi yang sebenarnya yaitu proses perenungan mendalam tentang hakikat hidup itu sendiri, dan membangun kesadaran kolektif untuk memahami makna hidup, tujuan, dan hubungan dengan Allah SWT.
Bagi umat Islam, bulan Ramadhan memiliki makna khusus yang terpatri pada hati sanubari. Magnet ramadhan menciptakan kerinduan tatkala hari-hari kian mendekati ujung.
Secara simbolik bisa dilihat dari semarak ibadah di masjid-masjid dan Mushola-mushola Rasulullah Saw melalui hadis Qudsi menyatakan Allah berfirman:
"Semua amal perbuatan Bani Adam menyangkut dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan karena itu Akulah yang langsung membalasnya".
Pada sisi lain, tidak banyak orang yang mampu memperoleh barokah dari momentum ramadhan, yaitu tumbuh dan berkembangnya iman, bertumbuh kebaikan terus menerus. Kita hendaknya mampu menjadikan ibadah puasa sebagai driving factor (faktor penggerak) dalam rangka mentransformasi nilai-nilai ibadah individu menjadi kesalihan sosial.
Ibadah puasa salah satu titik tolak untuk memaknai kehidupan sebagai sajadah panjang menuju jalan mardhatillah.
Dan cermin mengajarkan kepada kita tentang refleksi diri, kejujuran, dan pengembangan pribadi tanpa rekayasa serta melihat kekurangan kita apa adanya.
Penulis: Abdul Aziz
Sekretaris Infokomdigi MUI Provinsi Sumatera Utara

0 Komentar