Petranews.com-Medan| Peringatan 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila yang setiap tahunnya diperingati seluruh institusi melalui upacara nasional. Pancasila sebagai ideologi bangsa sekaligus sumber hukum bagi jalanannya roda pemerintahan, di dalam mengatur kehidupan dalam berbangsa, bermasyarakat dan bernegara.
Pancasila lahir dari sebuah perenungan atau kontemplasi dari bapak bangsa yakni Bung Karno. Indonesia harus memiliki ideologi sebagai garis perjuangan bangsa dalam mempertahankan Kemerdekaan yang sudah di umumkan kepada dunia pada 17 Agustus 1945.
Bagi Bung Karno, sejatinya tiap anak-anak Indonesia telah memiliki semangat dan memahami Pancasila sebagai sebuah ideologi dalam mempertahankan nilai-nilai kemerdekaan, sebab tanpa ideologi yang kuat, mustahil negeri ini dapat mempertahankan semangat dan nilai-nilai Kemerdekaan itu.
Hal ini disampaikan salah seorang pengajar di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) Prof Dr H Ansari Yamamah, MA saat usai melaksanakan upacara detik-detik peringatan Hari Lahir Pancasila, di Kampus 1 UIN SU Jalan Sutomo Medan, Senin (1/6/2026).
"Pancasila sejatinya harus menjadi benteng yang kuat dan kokoh bagi bangsa Indonesia ditengah arus globalisasi yang terus berkembang. Perubahan Geopolitik secara global juga sangat mempengaruhi dalam tata kehidupan dalam berbangsa dan bernegara, untuk itulah pembumian Pancasila sebagai ideologi bangsa harus terus dihidupkan dalam ruang dan dimensi yang berbeda, sehingga nilai-nilai itu tidak hilang atau lekang di lintas zaman,"ucap Prof Ansari.
Lebih jauh di tegaskan founder Islam transitif ini, bahwa nilai dan kandungan Pancasila sudah sangat sejalan dengan prinsip dan nilai-nilai Keislaman yang hidup tumbuh di negeri ini selama berpuluh-puluh tahun. Bahwa Islam dan Pancasila merupakan satu kesatuan integral dan sangat sejalan dengan nilai-nilai keagamaan yang ada.
"Bahwa nilai-nilai Pancasila sangat sejalan dengan nilai-nilai agama, terutama Islam yang mampu diterjemahkan para founding father negeri yang sangat menjemuk ini sehingga terjaga toleransi yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan,. persatuan dan persaudaraan kebangsaan yang kuat ditengah masyarakat,"terang Prof Ansari.
Menurut Guru Besar Sosiologi Hukum Islam UIN SU ini, ditengah arus perubahan zaman yang cepat terutama kecanggihan bidang teknologi digitalisasi, terkadang jika kita tidak mampu memfilter berbagai informasi yang masuk, maka dikhawatirkan, kita bisa tergerus dalam pusaran konflik yang bisa mengakibatkan rusaknya sendi-sendi kehidupan bangsa.
"Kita bersyukur hidup di negeri yang penuh rahmat dan berkah dari Allah SWT Tuhan YME, bahwa kita diberi kekuatan dalam membangun bangsa besar ini, menjadikan Pancasila sebagai sumber yang mengatur pola hubungan sosial, politik, ekonomi dan budaya disamping tentu ada nilai agama yang mengikat setiap umat beragama di negeri ini dan Pancasila menyatukan seluruh perbedaan itu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan dan filosofi kehidupan kebangsaan,"ucap peneliti sosial ini.
Untuk itu, lanjut alumni Leiden University ini, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) agar didorong lebih terbuka dan lebih aktif lagi dalam menyampaikan pesan-pesan Pancasila ditengah masyarakat secara massif, apalagi ditengah arus perubahan global yang terjadi diberbagai belahan dunia, tentu ini juga sangat berimbas bagi kehidupan kebangsaan kita.
"Kita berharap lembaga negara seperti BPIP harus dorong untuk lebih terbuka lagi dalam menyampaikan pesan-pesan keberagaman dalam dimensi kebangsaan. BPIP jangan lagi sekedar "Pembinaan" namun dia harus di dorong menjadi motor "Penggerak" di tengah bangsa, fungsi utamanya menjaga ideologi bangsa, sebagai benteng ideologisasi bangsa, maka BPIP harus mampu menyiapkan pranata yang lebih konkrit guna menjaga dan mengawal Ideologi Pancasila agar selalu tumbuh dan mengakar ditengah masyarakat dan bangsa kita yang pluralistik ini,"terang Prof Ansari.
Dalam kontkes global, disampaikan Prof Ansari, bahwa Bung Karno pernah berpidato di Sidang Umum PBB ke-15 di New York pada 30 September 1960. Dalam pidato bersejarah berjudul "To Build the World a New" (Membangun Dunia Kembali), Bung Karno memperkenalkan Pancasila kepada dunia internasional dan menawarkannya sebagai ideologi yang bersifat universal untuk menciptakan tatanan dunia baru yang lebih adil dan damai.
Dalam pidatonya itu, Bung Karno menegaskan lima prinsip ideologi bangsa Indonesia meliputi, Religion, Humanisme, Nasionalisme, Demokrasi dan Social Justice", yang kelimanya termanifestasi dalam lima sila dalam Pancasila, mendapatkan sambutan luar biasa dari seluruh delegasi dunia, bahwa prinsip Pancasila sebagai way of life atau waf of solution dari kondisi dunia yang sangat sekuler, dan liberal, Pancasila mampu mengintegrasikan kondisi dunia pada waktu itu pasca terjadinya perang dunia kedua dan kemerdekaan bangsa-bangsa diberbagai belahan dunia lain,"jelas Ansari Yamamah.
Pada bagian akhir, Prof Ansari menawarkan, kiranya kedepan BPIP bisa kolaborasikan dengan Perguruan Tinggi dalam menyampaikan pesan-pesan Pancasila kepada masyarakat, sehingga kita harapkan hadirnya pemahaman yang lebih luas bagi masyarakat memberi nilai kesadaran yang tinggi dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara.
"BPIP dan Perguruan Tinggi kedepannya agar didorong lebih progresif dalam membumikan semangat atau spirit dari nilai-nilai Pancasila dan bagi Perguruan Tinggi sendiri inipun bagian dari tanggung jawab akademik sebagaimana sumpah Tri Darma Perguruan Tinggi, bahwa Kampus punya tanggung jawab dalam membangun kesadaran dalam bernegara kepada masyarakat, sehingga tercipta kondisi negara kuat dalam ideologi, persatuan dan tumbuh rasa persaudaraan kebangsaan di tengah perbedaan yang ada,"ujar Imam Mazhab Islam Transitif ini. (AS)
0 Komentar