Petramews.com-Medan| Peran para penyuluh agama dibutuhkan bagi terciptanya kondisi sosial politik yang sejuk ditengah masyarakat yang beragam, dengan perbedaan etnis dan bahasa yang berbeda, terkadang jika ini tidak terkelola dengan baik, maka potensi gesekan antar etnis, agama dan perbedaan pilihan politiknya, dapat menganggu situasi Kamtibmas, dan berimbas terjadinya konflik sosial.
Hal ini disampaikan Guru Besar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) Prof Dr Nispul Khoiri, M.Ag pada kegiatan Focus Group Discussion (FGD) kerjasama Medan Media Cyber Club (MMCC) dan DirIntelkam Polda Sumatera Utara, pada Selasa (14/10) di Hotel Madani Medan, menggusung tema 'Sinergitas Antar Masyarakat Wujudkan Kondisi Kamtibmas yang Kondusif'.
Dalam paparannya, Prof Nispul menyoroti, betapa rentannya pondasi sosial masyarakat kita, terhasut ataupun tersulut informasi yang belum tentu kebenarannya, dan lebih parahnya lagi, informasi yang didapatkan tidak di cek fakta kebenarannya, sehingga itu menjadi pemicu terjadinya konflik sosial di masyarakat kita yang majemuk ini.
"Pers penting di satu sisi sebagai pemberi informasi kepada publik, tentang berbagai hal. Pers yang benar objektif dan kredibel dalam pemberitaan kepada publik, namun dilain pihak, media atau Pers itu sendiri, kadangkala kalah dengan kekuatan media-media sosial yang bergentayangan melalui ponsel pintar ini, dengan beragam sajian informasi yang ekstrem dan akhirnya memicu terjadinya konflik,"ucap Prof Nispul.
Lebih jauh di jelaskan dosen Pascasarjana UIN SU ini, antara media pers dan media sosial dalam kegiatannya jauh berbeda terkait peran dan fungsinya. Sebab insan pers itu terikat pada aturan hukum (UU Pokok Pers), sementara media sosial tidak memiliki payung hukum dalam beraktifitas.
"Dalam dua kutub yang kontradiktif inilah, peran penyuluh agama dibutuhkan, terutama guna menetralisir berbagai informasi liar yang tidak bertanggung jawab dan berimbas terjadinya kerusuhan sosial. Pers yang objektif bekerja sesuai amanat UU Pers, berita harus akurat, berimbang dan tidak provokatif, sementara media sosial tidak punya landasan yuridis, namun masyarakat kita justru menjadikan informasi lewat media sosial seperti panduan, lewat sentuhan jari-jari mereka berpotensi menganggu situasi Kamtibmas yang sudah berjalan baik, maka peran para penyuluh agama sangat penting dan strategis sebagai garda terdepan mencegah terjadinya konflik dan perpecahan di tengah masyarakat,"ujar tokoh muda Nadhlatul Ulama Sumatera Utara ini tegas.
Di bagian akhir tokoh muda Melayu ini tegas menyampaikan, bahwa merawat Indonesia yang multikultural ini, perlu adanya kekuatan bersama seluruh elemen bangsa, sehingga berbagai macam potensi gangguan dan ancaman dapat di antisipasi secara baik.
"Polisi dan tentara tidak bisa bekerja sendiri dalam menjaga Indonesia yang maha luas ini, maka dibutuhkan peran serta seluruh elemen masyarakat agar terlibat secara aktif, merawat dan menjaga kondusifitas yang sudah baik secara bersama. Kolaboratif yang di lakukan hari ini antara Polda Sumatera Utara dan elemen masyarakat, ini merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dalam merawat pluralitas dan keberagaman masyarakat khususnya di Sumatera Utara agar tetap terjaga kedamaian dan persatuan, sehingga tidak menimbulkan gejolak yang melatarbelakangi perbedaan itu,"harap Prof Nispul. (AS)


0 Komentar